ILMU NUJUM ADALAH RAMALAN SAINS MODEN TENTANG TAKDIR



Mengikut pandangan Ulama Ahli Sunnah Wal Jamaah, ilmu Nujum mendekatkan manusia kepada syirik dan kufur kerana mempercayai sesuatu petanda dan menafikan tauhid yakni beriman kepada ketetapan qada dan qadar, serta menjerumuskan pelakunya kepada kemusyrikan. Hal ini karena orang itu menyandarkan suatu kejadian kepada selain Allah Ta'ala. 


Rasulullah ﷺ bersabda,


من اقتبس علما من النجوم اقتبس شعبة من السحر زاد ما زاد


"Barang siapa mempelajari satu cabang dari ilmu nujum, maka sesungguhnya ia telah mengambil satu bagian dari ilmu sihir, semakin bertambah (ilmu yang dia pelajari), semakin bertambah pula (dosanya)" (HR Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad dan al-Baihaqi).

Ilmu nujum atau perbintangan termasuk sesuatu yang dapat menafikan tauhid, dan menjerumuskan pelakunya kepada kemusyrikan. Hal ini karena orang itu menyandarkan suatu kejadian kepada selain Allah Ta'ala.


Dikutip dari buku Aqidah Ahlul sunnah wal jamaah karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Munajjim atau ahli nujum juga termasuk dalam kategori peramal menurut apa yang diistilahkan oleh sebahagian ulama (Majmu Fatawa dan Fathul Majid Syarah Kitabu Tauhid).


Di dalam Sohih Bukhari dan Sohih Muslim, dari hadits Zaid bin Khalid al-Juhani, ia berkata: "Rasulullah telah mengimami kami solat Subuh di Hudaibiyyah setelah semalamnya turun hujan. Ketika selesai solat, beliau berbalik menghadap kepada para Sahabat lantas bersabda: 'Tahukah kalian apa yang difirmankan Rabb kalian?' Para Sahabat menjawab: 'Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui'.


Beliau ﷺ bersabda: 'Allah Subhanahu wa Ta'ala

berfirman: 'Di kala pagi ini, di antara hamba-hambaKu ada yang beriman kepadaKu dan ada pula yang kafir. Adapun orang yang mengatakan: 'Telah turun hujan kepada kita berkat kurnia dan rahmat Allah' ia telah beriman kepadaku dan kafir kepada bintang-bintang. Sedangkan orang-orang yang berkata: 'Telah turun hujan kepada kita karena bintang ini atau bintang itu', maka ia kufur kepadaku dan beriman kepada bintang-bintang" (HR Bukhari dan Muslim).


Imam al-Bukhari rahimahullah (wafat tahun 256 Hijriah) berkata di dalam kitab Sohihnya: Qatadah berkata: "Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan bintang-bintang ini untuk tiga hal:


1. Sebagai penghias langit.

2. Sebagai pelempar syaithan.

3. Sebagai tanda bagi orang untuk mengenal arah.


Maka, barang siapa menafsirkan selain dari itu, ia telah salah dan menyia-nyiakan bagiannya dan memaksakan diri dalam sesuatu yang ia tidak mengetahuinya" (Fathul Bari).


Gambar Sekadar Hiasan

Comments

Popular posts from this blog

DOA FAJAR

PADA YANG BARU NAK BERHIJRAH DISINI ADA NASIHAT

AKIDAH ASAS PEGANGAN ASWAJA